Hukum tawassul dengan nabi Muhammad setelah wafat, boleh??

Tawassul kepada Allah Ta’ala dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah wafatnya. Hukum nya boleh bukan amalan bid’ah….

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ ( الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ وَمُتَأَخِّرُو الْحَنَفِيَّةِ وَهُوَ الْمَذْهَبُ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ ) إِلَى جَوَازِ هَذَا النَّوْعِ مِنَ التَّوَسُّل سَوَاءٌ فِي حَيَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ بَعْدَ وَفَاتِهِ.

“Madzhab jumhur (mayoritas) ahli fiqih (Malikiyah, Syafi’iyah, generasi belakangan Hanafiyah, dan ini juga pendapat Hanabilah/Hambaliyah) berpendapat bolehnya tawassul jenis ini, sama saja, baik ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masih hidup atau setelah wafatnya.”

Berkata Al Qasthalani: Telah diriwayatkan, bahwa ketika Abu Ja’far bin Manshur (khalifa kedua masa Bani Abbasiyah) bertanya kepada Imam Malik: “Wahai Abu Abdillah (Imam Malik), apakah aku harus menghadap kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu berdoa, ataukah aku menghadap ke kiblat lalu berdoa?”
Imam Malik menjawab:

وَلِمَ تَصْرِفْ وَجْهَك عَنْهُ وَهُوَ وَسِيلَتُك وَوَسِيلَةُ أَبِيك آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَل يَوْمَ الْقِيَامَةِ ؟ بَل اسْتَقْبِلْهُ وَاسْتَشْفِعْ بِهِ فَيُشَفِّعُهُ اللَّهُ.

“Ketika kau hadapkan wajahmu kepadanya, maka dia adalah wasilah(perantara)mu dan wasilah bapak moyangmu, Adam ‘Alaihis Salam, kepada Allah ‘Azza wa Jalla pada hari kiamat nanti. Bahkan, menghadap kepadanya dan mintalah syafa’at dengannya, maka Allah akan memberikan syafa’at.”

(Lihat semua ini dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 14/151 – 161).

Alasan yg membolehkan tawassul kepada nabi baik ketika hidup atau setelah wafat adalah karena rasulullah tetap dalam keadaan hidup dalam kubur meskipun telah wafat.

Dalilnya:

  1. Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الأنبياء أحياء في قبورهم يصلون

Para nabi itu hidup di kubur mereka dan mereka shalat di dalamnya. (HR. Abu Ya’la No. 3425, Syaikh Husein Salim Saad mengatakan: shahih. Al Bazzar No. 6888. Syaikh Baari’ ‘Irfaan Tawfiq mengatakan: shahih. Lihat As Shahih Al Kunuz As Sunnah An Nabawiyah, 1/129. Syaikh Al Albani mengatakan: shahih. Lihat Shahihul Jami’ No. 2790. Imam Al Haitsami mengatakan: perawi Abu ya’la adalah tsiqat. Lihat Majma’ Az Zawaid, 8/386).
Dalil yang kedua:

وَلا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (QS. Ali ‘Imran: 169).

Jika para syuhada saja disebut “hidup”, dan tidak mati, maka para nabi apalagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lebih layak untuk mengalaminya.

 

Dalil yang ketiga:

Dalam Shahih Muslim disebutkan dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

أَتَيْتُ وَفِي رِوَايَةِ هَدَّابٍ مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ

Saya mendatangi –dalam riwayat Haddab- saya melewati Musa pada malam ketika saya di-Isra-kan, di sisi bukit merah, dan dia sedang shalat di dalam kuburnya. (HR. Muslim No. 2375). WaAllahu a’lam bishshowab.

(STAI MA’ARIF MENJAWAB KEGAMANGAN UMAT, AL-FAQIR ILA ALLAH ZAINUL ARIFIN)

2 thoughts on “Hukum tawassul dengan nabi Muhammad setelah wafat, boleh??”

  1. Manusia tetap hidup dengan ruhnya
    Manusia mati karena jasadnya yang hanya sebagai perantara..Doa insya Allah sampai kepada para Nabi Rasul kaum Muslim..Sebagai tanda ruh tetap hidup dan mereka mendengar…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *