KREATIFITAS GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN BERKUALITAS

(Artikel: Drs. Syamsul Arif, M.Pd)
(Ketua PPMA STAI Ma’arif Jambi)

Kurukulum yang bagus, buku yang tersedia, fasilitas lengkap, guru yang sudah dilatih berkali-kali tentang kurikulum, Tunjangan Pungsional Guru (TPG) yang lancar tidak banyak memberikan manfaat apabila proses pembelajaran di ruang-ruang kelas tidak dibenahi. Perbaikan di ruang kelas menjadi inti persoalan. Perbaikan ruang kelas bukan berarti fisik ruang kelas yang direnovasi, tetapi komunikasi yang .terjadi di ruang kelas saat dilaksanakan proses pembelajaran.

Depdiknas (1998: 180) menjelaskan bahwa usaha meningkatkan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan mengaplikasikan empat teknik, yaitu : 1). School Review adalah suatu proses dimana seluruh komponen sekolah bekerja sama khususnya dengan orang tua dan tenaga profesional untuk mengevaluasi dan menilai efektivitas sekolah serta mutu lulusan; 2). Benchmarking adalah suatu kegiatan untuk menetapkan target yang akan dicapai dalam suatu periode tertentu; 3). Quality Assurance merupakan teknik untuk menentukan bahwa proses pendidikan telah berlangsung sebagaimana seharusnya, pendidikan menjamin peserta didik dan guru yang berkualitas dari stakeholder; 4). Quality Control merupakan suatu sistem untuk mendeteksi terjadinya penyimpangan kualitas output yang tidak sesuai dengan standar.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, banyak kalangan berpendapat bahwa perubahan harus dimulai dengan mengubah atau merevisi kurikulum, meningkatkan anggaran pendidikan, mengadakan akreditasi, pelatihan dan membuat data base guru, mengkaji jam kerja guru untuk mendapatkan Tunjangan Profesi Guru (TPG) dan assessmen kepala sekolah dan lain lain.
Kita disibukkkan dengan wacana Full day school, sekolah gratis dan masalah makro pendidikan (kebijakan) yang lain, tetapi lupa bahwa kualitas pendidikan terletak di ruang belajar (mikro), ruang kelas, peristiwa dan proses yang baik dan benar di ruang ini adalah mutu masa depan pendidikan. Bagi stakeholder pendidikan adalah proses pembelajaran guru bisa dipotret dengan menetapkan jurnal pembelajaran: 1). Persiapan apa yang dilakukan sebelum proses pembelajaran; 2) apakah persiapan itu dibuat sendiri atau mencontoh persiapan orang lain; 3). Apakah guru siap mengajar hari ini; 4). Apa yang guru ajarkan hari ini; 5). Apa yang masih membingungkan bagi siswa; 6). Masalah apa yang muncul dalam pembelajaran; 7). Tingkat, jenis pembelajaran apa yang disampaikan; 8). Apakah peserta didik dapat menerima materi yang diajarkan; 9). Apakah peserta didik sudah dibelajarkan; 10). Apakah peserta didik antusia untuk belajar; 11). Apa sumber belajar yang diberikan menyenagkan peserta didik; 12). Apakah tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik; 13). Evaluasi apa yang diaplikasikan; 14). Apakah ada komunikasi dengan orang tua tentang potensi peserta didik.

Agar proses pembelajaran berkualitas, guru dipandu untuk berkreativitas dan berinovasi dengan optimal, maka tak perlu guru diatur dengan kurikulum secara amat ketat, tidak perlu dilakukan pengawasan yang berlebihan, harus membuat perencanaan pembelajaran wajib mengikuti format yang diberikan. Guru adalah kurikulum yang hidup, guru tahu apa yang dilakukan dan bertanggung jawab untuk membuktikan bahwa guru mampu dan bisa melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Guru harus diberikan kebebasan melaksanakan proses dan evaluasi pembelajaran dengan memberi kesempatan pada peserta didik, untuk dapat belajar dengan mudah, menyenagkan dan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Oleh karena itu mulailah pembenahan kualitas pembelajaran dengan mengadakan pelatihan guru yang produktif dengan menggabungkan mengobservasi, membaca, mencoba, meneliti dan menulis. Musti ada terobosan baru dalam pelatihan, melalui pelatihan-pelatihan yang dibagi dalam beberapa tahap, minimal dua tahap yaitu :
1.Tahap Pertama (Tahap Belajar)
a.Belajar mengobservasi, mencoba dan berdiskusi;
b.Peserta didik disuruh pulang kampung ke sekolah masing-masing untuk melakukan eksperimen terhadap apa yang sudah dipelajari;
c.Menulis apa yang sudah dibuat, dikerjakan di sekolah dalam bentuk karya ilmiah.
2.Tahap Kedua (Tahap Penelitian)
a.Peserta didik dipanggil lagi ke pelatihan;
b.Mengekspos hasil penelitian dengan kolega;
c.Menerima masukan dari kolega;
d.Revisi dan ekspos ke publik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *