Penelitian Berorientasi Manfaat

Hal yang sangat tidak “enak” di dengar ketika muncul letupan “seharusnya penelitian tidak jadi proyek atau ng-obyek” jadi tidak memiliki esensi kebermanfaatan bagi masyarakat. Karena setelah hasil penelitian selesai semua akan menilai dengan membacanya apalagi sudah terpublikasi, masyarakat walaupun tidak membaca tapi merasakan bahwa hasil penelitiannya hanya soal bercerita-cerita dengan teks-teks dan terjemahan-terjemahan tanpa adanya perubahan.

Penelitian yang menghidupkan seperti apa yang dilakukan oleh Clifford Geerrtz sebagai generasi dalam jendela paradigma perubahan sosial subjektif-interpretatif yang mampu menggambarkan masyarakat Kediri dengan beberapa kalsifikasi yang sesuai dengan realitas sosial yang ada sehingga masyarakat mampu menyadari bahwa kita berada dalam struktur sosial yang berbeda dan mempengaruhi cara kita untuk beribadah dalam keseharian, yaitu istilah Islam Abangan, Islam Priyai. Masyarakat berputar-putar dalam struktur sosial yang “menjinakkan” dalam budaya yang membudaya setiap hari.

Clifford Geerrtz menolak “peneliti yang menganggap masyarakat sebagai objek dari proses penelitiannya” ini bahaya bila terus-meneruskan dilakukan karena masyarakat bukan objek yang harus dijadikan benda mati tanpa adanya dinamisasi kehidupan yang sebenarnya masyarakat yang lebih paham dengan keadaannya mulai dari terbentuknya masyarakat dalam Desa secara turun-temurun yang seharusnya menjadi “subjek” dalam penelitian dan kita hanya bagian subjek dari subjek tersebut yang ingin mengetahui “to know” tentang mereka (masyarakat) lebih mengetahui “more-most to know.” Sehingga akhirnya bisa memahami apa yang menjadi substansi dari realitas sosial yang ada.

Thomas Khun dalam “The Structure of Scientific Revolution”: Suatu kerangka referensi atau pandangan dunia (world view) yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori. Jelas bagi pemahaman dalam paradigma perubahan sosial, bahwasanya yang menjadi referensi atau pijakan teori yang mendasar adalah realitas kehidupan yang ada di Dunia/Masyarakat yang kemudian menjadi pandangan hidup yang membudaya atau bahkan menjadi “Dogma Kehidupan” sehingga sangat susah mengubahnya karena menjadi “leluhur dalam kehidupan” sebagaimana yang sering disebut masyarakat Tengger Bromo “kita dari alam lelulur yang berasal dari Hilah Hilah, yang Tuhan sudah berikan untuk kehidupan, dan mengapa harus pergi dari tanah yang subur untuk hidup.”

Segera sadar dan segera dilakukan, statement yang menjadi paradigma dalam pikiran peneliti, apabila tidak muncul akan kembali tradisi riset-riset yang formalisasi yang isinya tentang “kejar tayang: limit waktu, proyek, target laporan secara mekanik.” Untuk itu menghilangkan paradigma mekanik dalam lapangan kembali kepada konsep Clifford Geerrtz yaitu intensitas dalam interaksi kepada masyarakat, semakin tinggi frekuensi intensitasnya maka semakin mendalam pemahaman dan bahkan timbul raca cinta dan peduli kepada masyarakat sebagai subjek penelitian. Rendahnya intensitas interkasi sosial mengakibatkan peneliti tidak mengetahui problem masyarakat secara substansial hanya mendengar dan melihat dalam keterbatasan awal.

Kembali ke teori paradigma perubahan sosial yang benar dalam penelitian. Sesuai dalam teori “mempunyai pendirian yang sama dengan kaum fungsionalis tetapi pendekatannya subjektif. Memahami kenyataan sosial apa adanya, kesadaran terlibat, kenyataan sosial dibentuk oleh kesadaran dan tindakan seseorang, mencari makna dibalik sesuatu pemikiran Weber dan Husserl; Dilthey, Schutz. Makna dalam hidup dengan hidup dalam makna yang ada yaitu realitas sosial untuk perubahan sosial dalam kaidah penelitian berorientasi bermanfaat.

Dr. Sumarto
(Tulisan dalam Kegiatan SCCOB Diktis Kemenag RI di Bromo)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *