KUKERTA TRANSFORMATIF STAI MA’ARIF JAMBI

Kukerta Transformatif yang akan dilaksanakan oleh STAI Ma’arif Jambi (3/2/2018) (Ketua STAI Ma’arif Jambi H. Amran, Ph.D, Ketua PPM Dr. H. Kasful Anwar Us, M.Pd dan sekretaris pelaksana kegiatan Taufiq Rohman, S.Pd.I) Kukerta berlangsung selama 2 Bulan yang dimulai pada Bulan Februari 2018. Kegiatan Pembekalan Kukerta Transformatif 10 Februari 2018 pukul 08.00 WIB di Aula Kampus STAI Ma’arif Jambi, sebagai bentuk tanggung jawab dan pengabdian perguruan tinggi dengan melakukan inovasi-perubahan tentunya dengan dasar kajian transformasi sosial berdasarkan riset yang dilakukan selama kegiatan Kukerta berlangsung, melaksanakan kegiatan observasi, wawancara dan dokumentasi selama kegiatan kukerta berlangsung dengan harapan, dari hasil data langsung yang diperoleh dapat memberikan gambaran realitas yang terjadi di masyarakat dan bersama sama mencari solusi atas problem yang terjadi.

Perguruan Tinggi memiliki peran yang strategis untuk melakukan perubahan sosial. Dimana apa yang dikaji dan dipelajari di pergutuan tinggi tidak pernah terlepas dari realitas sosial yang ada. Teori tidak akan berfungsi baik apabila hanya dipelajari dalam “kursi kuliah” tetapi teori akan bisa menghidupkan apabila sudah diterapkan dalam realitas masyarakat sebagai tawaran solusi atau tindakan alternatif untuk perubahan masyarakat. Tanggung jawab perguruan tinggi untuk melaksanakannya sebagai dharma bakti kepada masyarakat dalam tri dharma perguruan tinggi yaitu menjadi pengabdi masyarakat.

Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial untuk dapat berperan dalam pembangunan nasional dan peradaban manusia menuju lebih baik, ke depan. Hal ini tidak hanya tertera secara legal formal dalam hukum negara yaitu Undang-undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang pendidikan tinggi. Jauh sebelum itu dan lebih mendasar dari semata-mata memenuhi aturan perundangan negara, pendidikan secara normatif, filosofis dan historis memang hendaknya membawa perbaikan dan perubahan pada masyarakat.

Pendidikan tinggi selayaknya tidak hanya merupakan perjalanan peningkatan kompetensi terkait pengetahuan atau keahlian tertentu tapi juga pembangunan kesadaran dan karakter yang memiliki tanggung jawab sosial. Kepedulian pada keadaan sekitar, kesadaran akan keadilan dan ketidakadilan serta semangat untuk dapat memberikan kotribusi pada upaya perbaikan keadaan. Kesadaran dan kepedulian ini juga disebutkan oleh Paulo Freire sebagai conscientization sebagai bentuk kesadaran kritis yang menjadi tanggung jawab perguruan tinggi yang harus dilakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *