Pancasila Berkehidupan dalam Ke-Islaman

Pancasila sebagai dasar dan ideologi bangsa seharusnya bisa menjadi pedoman hidup untuk menyatukan bangsa dan menjadi solusi terhadap problematika yang sedang di hadapi oleh bangsa. Pancasila adalah sumber utama proses pendidikan karakter di setiap sekolah, baik sekolah umum maupun sekolah yang menerapkan pendidikan ke-Islaman, tidak ada yang membedakan dan dikotomi, karena Rasulullah SAW berjuang demi Islam dan kesatuan kebangsaan bangsa dan negara.

Pancasila membentuk pendidikan karakter bangsa. Nilai-nilai dalam Pancasila merupakan bahagian dari proses pendidkan karakter yaitu menanamkan nilai agama, nilai sosial, nilai budaya, nilai bermusyawarah, nilai keadilan yang seharusnya ada dalam setiap proses pembelajaran di sekolah dan kehidupan bermasyarakat.

Pancasila dan masyarakat tidak bisa terpisahkan, karena setiap nilai-nilai pancasila ada disetiap sendi kemasyarakatan, yaitu nilai kehidupan beragama, nilai kehidupan sosial untuk saling membantu, toleransi, saling menghormati dan menghargai, nilai bermusyawarah untuk mufakat tanpa ada unsur kepentingan golongan yang ada hanya kepentingan bangsa dan negara, nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yaitu setiap warga negara memperoleh hak dan kewajibannya, tanpa ada deskriminasi, pembedaan, terisolasi, semua dalam kesatuan Negara taat hukum dalam kebhinekaan.

Melalui pendidikan ke-Islaman dapat membentuk karakter kebangsaan yang nasionalis, karena berdasarkan perjungan Rasulullah SAW berjuang untuk Tauhid Ke-Islaman, membangun masyarakat yang berkebangsaan dan bernegara ketika di Madinah untuk mengatur dan megelola sistem kehidupan yang tentram, tertib dan damai tanpa ada unsur kejahatan bagi golongan lain, agama lain, semua sudah di bangun dalam kesepakatan bersama dalam Piagam Madinah.

Dengan adanya pengetahuan dan pengamalan Pancasila yang baik dalam proses Pendidikan Ke-Islaman, tidak ada dikotomi, semua terintegrasi, nilai-nilai-nilai Pancasila bisa membangun bangsa lebih baik dan maju, tidak ada lagi diskriminasi, tidak ada lagi dikotomi, tidak ada lagi siap intoleran, apalagi sampai peristiwa belakang hari ini yang terjadi yaitu mulai maraknya aksi terorisme kita kembali kepada Ke-Islaman dan ideologi kebangsaan.

Dr. Sumarto. LPMA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *