Tata Cara Puasa Syawwal

Tata Cara Puasa Syawwal

Menanggapi beberapa pertanyaan masuk mengenai tata cara puasa Bulan Syawwal, maka sekiranya perlu dijawab dan ditanggapi.

Kita akan menggali bagaimana tata cara puasa Syawwal menurut para Ulama’ dan pendapat yang kuat.

– Baik kita akan mencoba Mentakhrij Aqwal Fiqhiyyahnya

Pendapat pertama: Afdlolnya adalah dikerjakan diawal bulan (setelah ‘Idul Fitri dikerjakan secara langsung) dan secara ber-urutan.

Ini adalah pendapat Imam Syafi’i (W. 204 H), Ibn Mubarok (W. 181 H) dan selain dari keduanya. Beliau-beliau mengatakan bahwa menyambung puasa syawwal secara berurutan setelah idul fitri lebih baik dari pada dikerjakan secara acak (baik diawal/diakhir/atau ditengah). Dengan alasan berlomba-lomba menyegerakan kebaikan. (Lihat Kitab Majmu’ Syarh Muhadzdzab, Jilid: 6/401, ‘I’anatuh-Thalibin, Jilid: 2/269, Tuhwatuh Ahwadzi Sharh Sunan at-Tirmidzi, Jilid: 3/389, ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Daud, Jilid: 7/62-63 dan lain sebagainya).

Alasannya karena ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Thabrany (W. 360 H) dalam kitab beliau al-Mu’jam al-Ausath, Jilid: 7/315.

عَنْ ثَوْبَان عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ سِتَّةَ أّيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ مُتَتَابِعَة فَكَأَنَّمَا صَامَ السَّنَة

Dari Tsuban, Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah ShallAllahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Barangsiapa yang berpuasa enam hari setelah hari raya ‘idul fitri secara berurutan, maka bagaikan seperti puasa selama setahun. (H.R. Thabrany)

Para ulama’ hadits mengatakan hadits ini lemah (dlo’if).

Pendapat kedua: Tidak ada perbedaan antara diawalkan atau diakhirkan keduanya bernilai sama

Ini pendapat Imam Waki’ (W. 197 H) (salah seorang guru Imam Syafi’i (W. 204 H)), Imam Ahmad Ibn Hambal (W. 241 H), Ibn Qudamah (W. 629 H) dan yang lainnya. Mereka mengutarakan terdapat pilihan, mau diawalkan silahkan, mau diakhirkan juga silahkan. Berurutan boleh, tidak secara berurutan juga diperbolehkan. Karena lafadz dalam haditsnya mengandung makna muthlaq (tidak ada Batasan) bukan taqyiid, ini memberikan pengertian bahwa kapan saja diperbolehkan untuk mengerjakannya selama pada bulan Syawwal.

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Dari Abu Ayyub al-Anshari Radliyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, kemudian diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka bagaikan seperti puasa setahun”. (H.R. Imam Muslim dalam Shohihnya, Jilid: 2/822, Imam Ahmad Ibn Hambal dalam musnadnya, Jilid: 5/417, dan Ashhabus-Sunan yang lain kecuali dalam sunan an-Nasa’i dan hadits ini juga senada dengan hadits yang lain, jalur periwayatan dari Abu Hurairah).

Pendapat ketiga: Tidak langsung dikerjakan setelah hari raya, akan tetapi mengerjakannya disambung dengan “ayyamul bidl” (puasa tengah bulan) dimulai pada tanggal 10, 11, 12 lanjut “ayyamul bidl” 13, 14 dan 15 sehingga genap 6 hari.
Ini pendapat Imam Abdur-Razaq as-Shan’any (W. 211 H), Abu Muhammad ‘Atho Ibn Abi Rabah (W. 114 H), dan selainnya.

Mereka mengatakan: karena ‘idul fitri adalah hari untuk menikmati hidangan Allah makan dan minum (ma’-dubatullah) serta hari untuk saling berbagi kesenangan dan kebahagiaan. Maka lebih utama puasa syawwal diakhirkan dan digabung dengan puasa “Ayyamul Bidl” (puasa tengah bulan, tanggal 13,14 dan 15), sehingga mendapatkan dua keutamaan yaitu puasa syawwal dan puasa “ayyamul bidl”.

Kesimpulan,
– Puasa Syawwal sangat di sunnahkan, karena banyak hadits yang shahih dan kuat secara jalur periwayatan. Dan para ‘ulama juga menguatkan, bahwa indikasi amal diterima oleh allah adalah ketika kebaikan diiringi dengan kebaikan yang lain, jadi kebaikan selama ramadlan diiringi kebaikan di bulan syawwal yaitu “puasa”.
– Tidak ada dalil yang shahih menjelaskan tata cara puasa syawwal harus runtut, atau secara acak. Kalaupun ada secara runtut haditsnya lemah (dlo’if) bahkan sebagian Ulama’ Hadits mengatakan jalur periwayatannya tidak diketahui (La Ashla Lahu).
– Maka syawwal bisa dikerjakan diawal, ditengah ataupun diakhir atau sesempatnya ketika kita mempunyai waktu luang. Karena Islam memberikang ruang yang sangat luas untuk beramal, dan Islam adalah agama yang solutif serta mudah dan tidak memberatkan.
– Selamat melaksanakan puasa syawwal, jangan lupa selipkan do’a terindah untuk saudara-saudara kita semoga Allah Ridlo dengan kita semuanya.

Semoga Allah menjaga kita semuanya, dan amalan-amalan sunnah kita. Sehingga kita dapat istiqomah di jalan-Nya, Aamien Allahumma Aamien. Semoga bermanfa’at. Al-Faqir Ila Allah, ZA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *